Datakali ini memberitakan tentang keberadaan malaikat penjaga gunung. Hadits riwayat Aisyah, istri Nabi, ia berkata: bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apakah engkau pernah mengalami suatu hari yang lebih pedih pada Perang Uhud? Rasulullah menjawab; ‘Aku sering mendapatkan (sesuatu yang menyakitkan) dari kaummu.
3 Iman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada para nabi dan rasul sebagai petunjuk bagi hamba-hamba-Nya sepanjang sejarah manusia yang panjang. 4. Iman kepada malaikat, tugas-tugas yang mereka laksanakan, dan hubungan mereka
Kemudian– masih kata Injil Barnabas: “Nabi Ibrahim bertanya apa yang harus dilakukan untuk menyembah tuhan para malaikat dan para nabi?” Jibril menjawab: “bahawa hendaklah beliau pergi ke sumber ini dan mandi, agar dapat mendaki gunung sehingga Allah SWT berbicara dengannya.” Ia segera turun dari Shafa dan ia mulai berlari dan
Tawaranmalaikat kepada Nabi Muhammad untuk membinasakan penduduk Thaif ditolak. REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nabi Muhammad SAW pernah menolak tawaran malaikat yang siap membinasakan kaum yang menyakitinya. Namun, tawaran dari malaikat itu ditolak Nabi dengan lembut. "Aku hanya berharap kepada Allah Subhaanahu Wata'ala,
LADUNIID, Jakarta - Al-Habib Ahmad Kazim Al-Kaff pernah menceritakan suatu hal yang penting sebagai hikmah. Begini ceritanya: suatu hari, turunlah malaikat Jibril menemui Nabi Muhammad Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan bercerita, "Di langit ada seorang malaikat yang duduk di atas singgasana dengan dikelilingi 70.000 malaikat lain sebagai
DariAnas radhiallahu ‘anhu berkata, “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimintai sesuatu atas keislaman, melainkan beliau akan memberikannya, sungguh seseorang telah datang kepada beliau, lalu beliau memberikan kepadanya domba yang berada di antara dua gunung, kemudian orang tersebut kembali kepada kaumnya seraya berkata
Iaditanya oleh malaikat: "Wahai Adam! Apa dan siapakah makhluk yang berada di sampingmu itu?" "Sesungguhnya perkataan kasar yang disampaikan kepada Rasulullah saw ialah 'Wahai Rasulullah, bertaqwalah engkau kepada Allah." Ada yang mencari kebahagiaan sambil berwisata ke gunung, ada yang mencari di pantai, Ada yang mencari ditempat yang
Silaturahmiadalah ketaatan dan amalan yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah Ta’ala, serta tanda takutnya seorang hamba kepada Allah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab
quNf. JAKARTA - Nabi Muhammad SAW pernah menolak tawaran malaikat yang siap membinasakan kaum yang menyakitinya. Namun, tawaran dari malaikat itu ditolak Nabi dengan lembut."Aku hanya berharap kepada Allah Subhaanahu Wata'ala, seandainya saat ini mereka tidak menerima Islam, semoga kelak di antara keturunan mereka akan lahir orang-orang yang menyembah dan beribadah kepada Allah Subhaanahu Wata'ala," kata Nabi saat menyampaikan penolakan tawaran malaikat penjaga gunung kepada Nabi Muhammad itu terjadi di Qarnul Manazil, setelah melihat Nabi disakiti oleh penduduk di Thaif sampai berlumuran darah. Malaikat penjaga gunung itu atas izin Allah Subhanahu Wata'ala berkata, "Apa pun yang engkau perintahkan akan kulaksanakan. Bila engkau sukai, akan ku benturkan gunung-gunung yang ada di sekitar kota ini sehingga siapa saja yang tinggal di antaranya akan hancur binasa. Atau apa pun hukuman yang engkau inginkan." Begitulah tawaran malaikat yang ditolak Nabi hadits Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi dalam kitabnya Fadhilah Amal mengatakan, selama sembilan tahun, sejak masa kerasulan, Nabi Muhammad SAW telah berusaha menyampaikan ajaran Islam dan mengusahakan hidayah serta perbaikan kaumnya di Makkah. "Namun, kebanyakan orang-orang Makkah selalu menyakiti, memperolok-olok, dan berbuat semena-mena terhadap Baginda Nabi Muhammad dan para sahabat kecuali sekelompok kecil orang yang sudah masuk Islam dan beberapa orang yang selalu membantu beliau walaupun belum masuk Islam," katanya. Pada tahun ke-10 kenabian ketika Abu Thalib paman Rasulullah meninggal dunia, kaum kafir mendapat kesempatan untuk mencegah perkembangan Islam dan menyakiti kaum Muslimin secara lebih leluasa. Untuk menghindari penindasan itu, Rasulullah pergi ke Thaif yang didiami kabilah Tasqif yang berjumlah besar dengan harapan apabila kabilah tersebut masuk Islam, kaum Muslimin akan terbebas dari berbagai penderitaan dan Thaif akan menjadi fondasi penyebaran agama Zakariyya al-Kandahlawi menceritakan, setibanya di Thaif, Baginda Rasulullah langsung menemui tiga orang yang ditokohkan. Rasulullah mengajak mereka untuk hanya beribadah kepada Allah. "Akan tetapi, mereka bukannya menerima atau paling tidak berlaku sopan kepada tamu yang baru datang sebagaimana adat bangsa Arab yang terkenal dengan memuliakan tamu, bahkan mereka tanpa basa-basi menyambut beliau dengan sikap dan akhlak yang sangat buruk," mereka pun tidak rela Baginda Rasulullah tinggal di situ. Padahal, orang-orang yang yang dianggap sebagai tokoh seharusnya berbicara dengan sopan dan berakhlak mulia kepada seorang tamu. Maulana Zakariyya mengisahkan bagaimana mereka merendahkan Rasulullah kala itu. Salah satu di antara mereka ada yang berkata, "Oh kamu orang yang diutus oleh Allah sebagai nabi." Kemudian, yang kedua berkata, "Apakah Allah tidak menemukan selain kamu untuk diutus sebagai rasul." Sementara itu, yang ketiga juga sama, merendahkan Rasulullah. "Aku tidak mau berbicara dengan kamu, sebab jika kamu memang seorang nabi seperti pengakuanmu, lalu aku menolakmu, tentu aku tidak lepas dari musibah. Jika kamu pembohong, aku tidak mau bicara dengan pembohong."Mendengar ejekan itu Rasulullah tidak berputus asa dan terus berusaha untuk mendekati masyarakat umum, tetapi tidak seorang pun yang mau mendengarkannya. Jangankan menerima, bahkan mereka mengusir Rasulullah. "Tinggalkan segera kami, pergilah ke mana kamu!"Maulana Zakariyya al-Kandahlawi mengatakan, ketika Baginda Rasulullah sudah tidak dapat mengharapkan mereka dan bersiap-siap untuk kembali, mereka menyuruh anak-anak kota membuntuti Rasulullah. Mereka lalu mengganggu, mencaci, dan melempari Rasulullah dengan batu sehingga kedua sandal beliau berlumur darah. Dalam keadaan seperti itulah Rasulullah meninggalkan Thaif. Di tengah perjalanan, tatkala sudah merasa aman dari gangguan anak-anak nakal itu, beliau berdoa kepada Allah. "Ya Allah, aku adukan kepada-Mu lemahnya kekuatanku, habisnya upayaku, dan kehinaanku dalam pandangan manusia. Wahai Yang Maha Penyayang melebihi sekalian penyayang, Engkaulah Tuhan orang-orang yang tertindas dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau serahkan diriku? Kepada orang asing yang akan memandangku dengan muka masam atau kepada musuh yang Engkau kuasakan kepadanya segala urusanku? Tiada keberatan bagiku asalkan Engkau tidak murka kepadaku. Perlindungan-Mu sudah cukup bagiku. Aku berlindung kepada-Mu dengan Nur-Dzat-Mu yang menyinari segala kegelapan, dan dengannya menjadi baik segala urusan dunia dan akhirat. Aku berlindung dari turunnya kemarahan-Mu kepadaku atau kemurkaan-Mu kepadaku. Aku sanggup berbuat apa saja, hingga Engkau ridha. Tiada daya dan upaya melainkan denganmu."Setelah doa inilah Allah Subhanahu Wata'ala Penguasa Alam pun memperlihatkan keperkasaannya dan mengutus Malaikat Jibril AS untuk datang memberi salam kepada Nabi. Ia berkata, "Allah Subhanahu Wata'ala mendengar ucapanmu dan jawaban kamu dan Dia mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung agar siap melaksanakan apa pun perintahmu kepadanya." "Namun, perintah pembinasaan kaum kafir itu ditolak Rasulullah dengan lembut. Demikianlah akhlak Rasulullah yang mulia," kata syaikhul hadits Maulana Muhammad Zakariyya Maulana mengingatkan bahwa kita mengaku sebagai pengikutnya Nabi Muhammad SAW. Namun, ketika sedikit kesulitan atau celaan menimpa kita, kita langsung marah, bahkan menuntut balas seumur hidup. Kezaliman dibalas dengan kezaliman, sambil kita terus mengaku sebagai umat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. "Meskipun mengalami penderitaan dan kesusahan yang berat, Rasulullah SAW tidak berdoa buruk dan tidak menuntut balas," katanya.
403 ERROR Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation. Generated by cloudfront CloudFront Request ID dMO4MxySsXjigouv0uRzBIkoNjrJU1h4w85eCsK4nD2nAZwv6jjoRw==
Jakarta - Salah satu tugas utama Jibril adalah menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. Cara Malaikat Jibril menyampaikan wahyu telah disebutkan dalam sejumlah Abdul Majid Az-Zandani mengatakan dalam Ilmul Iman, dalam Shahih Bukhari disebutkan sebuah riwayat dari Aisyah RA bahwa Al-Harits bin Hisyam pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, bagaimana cara turunnya wahyu kepada engkau?"Rasulullah SAW menjawab, "Terkadang wahyu datang seperti suara bising lonceng. Tentu saja hal ini memberatkanku, sehingga ketika suasana tersebut berhenti, aku sudah menyadari apa yang disampaikan oleh Jibril. Ada kalanya Malaikat Jibril mengubah wujud menjadi seorang laki-laki yang berbicara denganku dan aku pun menyadari apa yang diucapkannya."Malaikat Jibril juga pernah menyampaikan wahyu melalui mimpi. Aisyah RA berkata, "Aku pernah melihat beliau sedang diturunkan wahyu kepadanya saat musim dingin yang sangat dingin, kemudian wahyu itu berhenti, ternyata kening Nabi bercucuran keringat." HR Bukhari dan MuslimBukhari juga meriwayatkan dari Aisyah RA dia berkata, "Sesungguhnya apa yang mula-mula terjadi pada Rasulullah SAW adalah mimpi yang benar di waktu tidur, beliau tidaklah melihat mimpi kecuali mimpi itu datang bagaikan terangnya waktu pagi hari."Selain itu, menurut Rizem Aizid dalam buku Sejarah Peradaban Islam Terlengkap, Malaikat Jibril menyampaikan wahyu dengan cara memasukkan wahyu tersebut ke dalam hati Nabi Muhammad SAW. Cara seperti ini membuat Rasulullah SAW merasakan wahyu itu sudah ada di dalam hati dan pikiran Rizem Aizid, cara seperti itu juga membuat Malaikat Jibril tidak perlu menampakkan dirinya di hadapan Nabi Muhammad SAW. Selain cara tersebut, Malaikat Jibril juga pernah menampakkan dirinya di hadapan NabI SAW saat menyampaikan yang berkenaan dengan Jibril menampakkan wujud aslinya disebutkan dalam Al-Qur'an surah An Najm ayat 13-14 dan surah At Takwir ayat 22-23. Allah SWT berfirmanوَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ ١٣ عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى ١٤Artinya "Sungguh, dia Nabi Muhammad benar-benar telah melihatnya dalam rupa yang asli pada waktu yang lain, yaitu ketika di Sidratulmuntaha." QS An Najm 13-14وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍۚ ٢٢ وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِۚ ٢٣Artinya "Temanmu Nabi Muhammad itu bukanlah orang gila. Sungguh, dia Nabi Muhammad benar-benar telah melihatnya Jibril di ufuk yang terang." QS At Takwir 22-23Berdasarkan sejumlah keterangan di atas, berikut cara Malaikat Jibril menyampaikan wahyu kepada Rasulullah SAWDatangnya wahyu seperti suara lonceng yang sangat kuat dan Jibril mengubah wujud seperti seorang manusia Jibril memasukkan wahyu ke dalam hati Rasulullah turun melalui Jibril menampakkan wujud melalui perantara Malaikat Jibril, Allah SWT juga pernah menyampaikan wahyu secara langsung kepada Rasulullah SAW. Disebutkan dalam buku Meneladani Rasulullah melalui Sejarah karya Sri Januarti Rahayu, cara seperti ini sebagaimana Allah berfirman dengan Musa bin Imran. Simak Video "Permintaan Maaf Wanita Simpan Al-Qur'an Dekat Sesajen-Akui Tertarik Islam" [GambasVideo 20detik] kri/lus